Christian Hadinata – Perjalanan Panjang Legenda Bulutangkis Indonesia

Menyaksikan anak didiknya bertanding, minim sekali senyum di wajahnya. Wajah dinginnya tampak ketika poin didapat. Berbeda halnya ketika kesalahan dilakukan oleh anak didiknya, ia lantas mengomentari kesalahan anak didiknya. Komentar itu menjadi bahan evaluasi untuk anak didiknya ketika kembali berlatih di Pelatnas Cipayung.

Christian Hadinata (60) layak menjadi simbol kekuatan bulutangkis Indonesia. Dia adalah legenda hidup yang berhasil mengukir prestasi internasional baik ketika menjadi pemain, pelatih, maupun sebagai pengurus Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI).

Bakat Alami
Meski tidak terlalu serius, bulutangkis merupakan hobi olahraga yang ditekuni Christian. Bahkan ketika duduk di bangku kelas 2 SLTA, ia sudah tidak bisa intensif bermain bulutangkis. Keterbatasan ekonomi membuatnya berhenti menekuninya, meskipun ia cukup menguasi teknik bermain dengan baik.

Sebagai olahraga yang sudah baik prestasinya di mata publik saat itu, bulutangkis menjadi olahraga yang sangat mahal. “Raket, sepatu dan satelkok itu harus diganti kalau sudah rusak. Pada saat itu keluarga saya lebih mengutamakan pendidikan. Kebetulan saya lebih banyak diajak oleh teman yang lebih mampu menyediakan kok,” kenangnya.

Garis nasibnya memang menuntunya untuk hidup dari bulutangkis. Kakaknya yang berdomisili di Bandung dan sudah bekerja, membiayainya untuk menekuni bulutangkis dan kuliah. Ia akhirnya masuk dalam Klub Mutiara dan memilih bulutangkis sebagai jalan hidup. Di usianya ke-21, tepat 3 tahun sejak intensif berlatih, Koh Chris, biasa ia disapa langsung mencatatkan prestasi. Di ganda putra berpasangan dengan Atik Jauhari, ia menjadi juara nasional. Sedangkan di ganda campuran menjadi juara Asia berpasangan dengan Retno Kustijah.

Tahun 1970-an, bulutangkis merupakan warisan yang sudah baik. Sebagai atlit muda, ia pastinya mengalami tekanan ketika tampil di hadapan pendukung sendiri. “Dukungan para penonton sangat luar biasa. Tapi dukungan penonton menjadi teror jika permainan saya jelek. Ketika saya bisa mengatasi tekanan dan menjadi juara. Kebanggaan buat saya dan seluruh negeri ini,” tuturnya.

Perasaan senang dan bahagia terpancar dari wajah sang juara. Ketika Merah Putih diapit oleh bendera lain, itu sepertinya negara lain tunduk sama negara kita. Begitu juga sebaliknya, apabila merah putih mengapit bendera lain itu sangat menyedihkan buatnya. Juara All England, Juara Dunia dan juara di negara berbeda dengan pasangan yang berbeda pula sudah ia rasakan.

SEMANGAT SANG JUARA
Usia tidak bisa di pungkiri. Kini setelah genap 17 tahun membela panji negara, ia gantung raket. Tersisa pengalaman yang mesti ia wariskan pada generasi berikutnya. Semangat sang juara. Itulah yang ingin ia tularkan pada pasangan ganda putra yang ia latih. Tangan emasnya berhasil memoles Ricky Achmad Subagdja/ Rexy Mainaky, Gunawan/ Bambang Suprianto dan Denny Kantono/ Antonius. Christian juga ikut membentuk Candra Wijaya/ Sigit Budiarto, Tony Gunawan/ Halim Haryanto. Di antara mereka ada yang sudah merebuat juara Dunia, All England dan Olimpiade serta memberi fondasi yang kuat bagi pemain-pemain muda saat ini.

Pengabdian, totalitas, prestasi dan semangat mencatatkan namanya sebagai penerima penghargaan Hall of Fame, penghargaan tertinggi di dunia bulutangkis dalam perhelatan Piala Thomas di Guangzhou tahun 2002. Jemaat GKI Pondok Indah ini bersyukur pada Tuhan karena diberi berkat dan anugerah bisa bermain bulu tangkis. “Ini proses yang panjang, mulai dari menjadi atlet, pelatih, dan sekarang menjadi pengurus. Saya berterima kasih kepada PBSI yang sudah memberikan fasilitas untuk menjadi atlet, pelatih, lalu menjadi pengurus. Semua itu tambahan motivasi yang mendorong karir saya,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s