Bercermin Dari Kisah Hidup Hastomo Arbi

Jadi Beswan djarum bener-bener bikin mimpi saya jadi kenyataan. Saya adalah penggila bulutangkis, dan bermain bulu tangkis di lapangan PB Djarum di Kudus sudah menjadi mimpi saya sejak kecil. Beasiswa Djarum bakti pendidikan sudah mewujudkan itu untuk saya. Siapa sih yang gak kenal PB Djarum? Klub bulutangkis yang satu ini sudah membuktikan bahwa dia mampu mencetak prestasi kelas dunia dan sukses mempertahankan tradisi medali di Olimpiade.

Siapa sangka saat factory Visit Silatnas kemarin saya diberi kesempatan berfoto bersama pemain selegendaris Hastomo Arbi. Pemain yang di era 80-an sukses merebut piala Thomas dari negri Tiongkok dan membawa pulang lambang supermasi tertinggi bulutangkis beregu putera itu ke tanah air. Seorang hastomo Arbi berada di samping saya persis dan berada satu frame di camera??? Wow!!! Saya sangat senang sekaligus sedih.

Senang karena akhirnya saya bisa bertemu pemain legendaris, tapi sedih karena pahlawan piala Thomas di era 80-an itu kini tidak sebugar dulu. Saya sedih melihat cara dia berbicara. Saya sedih melihat kondisi dia saat ini. Issue masa depan atlet Indonesia memang sangat marak dibicarakan, tetapi begitu melihat langsung kondisi mereka, rasanya saya ingin mencaci maki pemerintahan negeri yang busuk ini! Busuk karena tidak menghargai jasa para atlet yang sudah mengharumkan nama bangsa dan mengibarkan bendera merah putih di kancah dunia.

Aku cinta Bulutangkis Indonesia, tapi aku muak dengan pembinaan Bulutangkis di Indonesia!!!

…Mari mengenal lebih dalam lagi sosok kakak tertua Arianto Arbi ini…
Nama : Hastomo Arbi
Tempat/Tgl. Lahir : Kudus, 5 Agustus 1958
Email :
Tahun Bergabung : 1970
Spesialisasi : Pelatih tunggal
Tangan (Kiri/Kanan) : Tangan Kanan
Mulai karir bulu tangkis pada usia : 6 tahun
Prestasi : Sebagai Pemain
– Juara Sea Games 1979
– Juara PON 1983
– Runner Up Indonesia Open 1983
– Juara Piala Alba 1983
– Juara I Tim Indonesia Thomas Cup 1984
– Runner Up Indonesia Open 1984
Pertandingan paling mengesankan : Sebagai Pemain.
Piala Thomas 1984, berhasil menyumbangkan 1 poin untuk tim Indonesia dengan mengalahkan pemain unggulan, Han Jian dari tim China pada pertandingan final. Indonesia dapat merebut piala Thomas dengan kemenangan 3-2. Dari 4 kali pertemuan dengan Han Jian baru kali ini saya dapat memenanginya
Pertandingan paling mengecewakan : Sebagai Pemain
– Indonesia Open 1984, saya kalah dari Lius Pongoh karena saat itu kaki saya lecet
Cita-cita/harapan untuk bulu tangkis : Ingin menjadikan anak didik sebagai juara dunia
Hobi : Sepeda gunung, Sepak bola
Makanan favorit : Bakmi jawa
Film favorit : Data not available
Lagu favorit : Pop
Aktor/Aktris favorit : Luna Maya, Roy Marten
Atlit favorit : Michael Schumacer, Valentino Rossi
Acara TV favorit : F1, GP
Cita-cita bila tidak berkarir di bulu tangkis : Wiraswasta
Tentang saya : Jujur, dan disiplin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s